Aksi petani Ciomas melawan penjajah terjadi saat Indonesia masih dijajah Belanda. Sejak menjadi negara kolonial, berbagai permasalahan kerap muncul mulai dari pajak yang tinggi hingga tindakan sewenang-wenang para tuan tanah yang memaksakan kehendak.

Penguasaan atas tanah dilakukan oleh Belanda secara sepihak, lalu menjualnya kepada meneer-meneer yang kemudian diberi hak sebagai pemilik tanah partikelir. Petani yang kebetulan memiliki ladang di tanah partikelir, maka mereka akan merasakan imbasnya. Hasil panen harus diserahkan seperlima bagian kepada sang tuan tanah.

Tak jarang, para petani harus menjalani kerja paksa dengan berbagai jenis pekerjaan. Pekerjaan yang dilakukan biasanya berlangsung selama tiga sampai lima hari dalam satu bulan. Jika menolak, maka centeng-centeng sang tuan tanah akan berulah.

Tindakan penindasan dari penguasa kepada petani itulah yang kemudian memuncukan gerakan sosial atau pergolakan perlawanan dari petani dan rakyat. Selain muncul dari dampak tanah partikelir, perlawanan rakyat juga dipicu oleh ketidak adilan penguasa dan adanya dominasi dan campur-tangan orang-orang Eropa di berbagai bidang, mulai dari politik, ekonomi, hingga kulturan.

Puncaknya terjadi di daerah Ciomas, Bogor pada tahun 1866. Terjadi peristiwa perlawanan petani dan rakyat versus penguasa yang disebabkan oleh hal-hal yang disebutkan di atas.

Apa yang terjadi di Ciomas bukan sekedar masalah pajak yang terlalu tinggi ataupun kesejahteraan petani yang tidak diperhatikan, tapi juga perlakuan sang tuan tanah yang menjadikan para petani tak ubahnya budak-budak mereka. Perlakuan tersebut meliputi menyuruh paksa petani mengangkut hasil panen dari sawah dan ladang ke lumbung sejauh 15-18 km hanya dengan berjalan kaki, belum lagi wanita dan anak-anak yang dipaksa ikut bekerja selama sembilan hari setiap bulannya. Gerakan perlawanan mulai muncul setelah petani menolak dipaksa bekerja di perkebunan kopi milik tuan tanah.

Pada hari Senin 22 Februari 1886, para petani yang melawan kemudian menghabisi Camat Ciomas waktu itu, R.M.H. A.Adimenggala. Perlawanan petani pimpinan Arpan dan Moh.Idris itu pun berlanjut hingga ke daerah Pasir Paok. Di tempat itu, mereka melakukan perlawanan kepada tentara KNIL.

Dengan adanya gerakan perlawanan tersebut, banyak petani yang kemudian hengkang dari tanah partikelir lalu ikut bergabung dengan Moh.Idris. Pada 19 Mei 1886, mereka berhasil menduduki Ciomas selatan dan mengambil alih gudang-gudang yang ada di Sukamantri dan Warungloa.

ciomas bogor 1900
ciomas bogor 1900

 

Keesokan harinya pada 20 Mei 1886, pemberontak menyusup dalam sebuah upacara sedekah bumi di daerah Gadong. Kebetulan dalam upacara tersebut ikut hadir semua pegawai sang tuan tanah.

Upacara sedekah bumi adalah perayaan tahunan yang dilakukan para petani sebagai wujud syukur kepada pencipta dengan dimeriahkan permainan musik, tari-tarian, dan atraksi lainnya. Ketika acara sedekah bumi tersebut akan berakhir, kaum pemberontak segera berhamburan keluar dan melakukan penyerangan. Mereka dengan membabi-buta segera melampiaskan kemarahannya kepada para pegawai dan kaki-tangan tuan tanah yang sering bertindak di luar batas.

Upacara sedekah bumi berakhir dengan pembantaian besar-besaran terhadap para pegawai dan centeng sang tuan tanah. Dalam peristiwa itu, sebanyak 40 orang tewas terbunuh, dan 70 orang lainnya mengalami luka-luka. Sedangkan sang tuan tanah sendiri selamat, karena tidak ikut hadir dalam perayaan tersebut.

Gerakan perlawanan rakyat dan petani umumnya dipicu oleh perlakuan penguasa yang sering bertindak sewenang-wenang, dalam hal ini tuan tanah. Adapun bentuk perlawanan biasanya ditujukan kepada tuan tanah, pegawai pemerintah kolonial baik orang asing atau pribumi, para tengkulak, dan lintah darat.

Apa yang terjadi di Ciomas pada 1886 ternyata menjadi pemicu munculnya perlawanan petani lain di berbagai daerah. Beberapa gerakan perlawanan petani kepada penguasa, antara lain terjadi juga di:

  • Ciampea (1913) dipicu oleh tindakan pengukuran tanah rakyat oleh penguasa yang dianggap sewenang-wenang dan tidak adil.
  • Condet (1916) pemberonak pimpinan Entong Gendut menyerang para tuan tanah yang melakukan tindakan kekerasan.
  • Tangerang (1924) pimpinan Kaiin yang dipicu oleh tindakan sewenang-wenang pemerintah Belanda dan tuan tanah. Dalam peristiwa ini, kantor pemerintahan dan rumah para tuan tahan dibakar oleh petani dan rakyat.
  • Kediri (1907) pimpinan Kiai Dermajaya yang menganggap dirinya sebagai ratu adil.

 

SebelumnyaTerlindungi: Kisah buaya buntung penghuni Cipakancilan
BerikutnyaTerlindungi: Ciliwung Riwayatmu Kini

Tinggalkan Balasan