Kampung Adat Urug berada di Desa Kiara Pandak, Sukajaya, Kabupaten Bogor. Lokasinya sekitar 15 kilometer dari arah Cigudeg. Setelah diresmikan tahun 2010 lalu, kampung Urug menjadi salah satu destinasi wisata budaya yang menarik untuk dikunjungi.

Kampung Urug menanamkan nilai-nilai kebudayaan dan tradisi dalam kemasyarakatan, maupun alam dan lingkungannya. Pemberian nama Urug diambil dari kebalikan kata GURU yang merupakan bentuk akronim dari DIGUGU dan DITIRU. Kemungkinan hal ini ada kaitannya dengan sejarah masa lalu Kampung Urug yang dipercaya berasal dari Prabu Siliwangi.

Rumah adat di kampung urug
Rumah adat di kampung urug

 

Beberapa tradisi dan budaya lama yang masih dipegang kokoh oleh masyarakat Kampung Urug antara lain:

  1. Pola Pemukiman yang mencirikan rumah adat khas Sunda berbentuk panggung dan dilengkapi lumbung padi yang disebut “leuit”.
  2. Gaya arsitektur bangunan lebih banyak menggunakan rumah adat khas julang ngapak dan tagog anjing.
  3. Semua masyarakat yang tinggal di Kampung Urug, satu sama lain masih memiliki pertalian keluarga yang dikenal sebagai “Tatali Kahuripan”.
  4. Adanya sebuah rumah besar yang disebut Gedung ageung yang menjadi pusat pemerintahan adat, selain itu ada juga Gedong alit dan Gedong pangkaleran.
  5. Pemangku adat dipegang oleh Ki Kolot Ukat, yang merupakan keturunan kesembilan dari turunan pendahulunya.

Di Kampung Urug terdapat tiga kepemimpinan yang mengendalikan pemerintahan kampung adat ini, yaitu:

  • Ki Kolot Ukat yang disebut juga Kokolt Leubak, dengan tugasnya mengendalikan dan mempertahankan tradisi temurun seperti acara seren tahun, ruwatan, serta hari-hari besar umat Islam lainnya.
  • Ki Kolot Amat yang disebut Kokolot Teungah, tugasnya mengataur masyarakat, mengumpulkan masa, dan memberikan petunjuk dalam sebuah kesepakatan adat.
  • Ki Kolot Rajaya yang menjalankan petunjuk untuk pertanian seperti menanam padi dengan cara tradisional, juga mempertahankan adat istiadat di Kampung Urug dengan perannya sebagai “pencerita” sejarah Kampung Urug, silsilah, dan riwauat yang berkaitan dengan tradisi dan budaya Kampungnya serta menceritakan kisah-kisah yang ada kaitannya dengan raja-raja Pajajaran dan Kampung Urug.

Potensi wisata di Kampung Urug

Potensi wisata di Kampung Urug selain daripada kearifan budaya lokalnya juga keindahan bentang alam yang terpancar saat memasuki kawasan kampung Urug. Untuk menuju kampung ini harus melewati hamparan persawahan dan sungai yang sangat jernih airnya.

Keanekaragaman satwa juga dapat disaksikan di sepanjang jalan menuju Kampung Urug. Beberapa satwa liar yang masih dapat terlihat antara lain lutung jawa (Trachypithecus auratus), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), dan burung seperti elang jawa (Nisaetus bartelsi), cakakak jawa (Halcyon cyanoventris), dan srigunting (Dicrurus macrocercus).

Menurut pemangku adat setempat, Kampung Urug sudah ada sejak lebih dari 450 tahun yang lalu. Itu artinya kampung ini sudah ada sejak masa kepemimpinan Prabu Nilakendra yang menjadi Raja di Pakuan Pajajaran pada 1551 – 1567 Masehi.

Seperti diketahui Prabu Nilakendra adalah raja di Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran yang bertahta melanjutkan kepemimpinan ayahnya sang Ratu Sakti (1543-1551). Nilakendra dikenal juga sebagai Tohaan di Majaya. Ketika Ia menjabat sebagai raja, situasi kerajaan pada waktu itu sedang dalam ancaman pemberontakan.

Prabu Nilakendra diceritakan sangat percaya kepada benda-benda yang dianggapnya memiliki khasiat atau azimat dan ketika mendengar pasukan Banten akan menyerang, Nilakendra justru meninggalkan kerajaan. Sejak itulah ibu kota Pakuan telah ditinggalkan oleh rajanya, dan dibiarkan nasibnya kepada para penduduk dan perwira serta prajurit kerajaan yang masih tersisa.

Kondisi tersebut berlanjut sampai Raga Mulya mengambil alih kepemimpinan kerajaan dengan memindahkan pusat pemerintahan ke Pulasari di Pandeglang.

 

 

SebelumnyaTerlindungi: Asal Usul nama tempat di Bogor
BerikutnyaTerlindungi: Sejarah Bogor dan perkembangannya

Tinggalkan Balasan